Candu Kejenuhan Episode Kimi
Kimi adalah teman ku, dia yang mengajarkan ku bersosialisasi dan merubah
sudut pandangku.
Ini berawal ketika aku memasuki Sekolah Menengah Pertama. Aku bersekolah di salah satu sekolah favorit di kota Sumber. Sebenarnya aku tidak mau bersekolah disana, setelah lulus Sekolah Dasar aku merengek dan kekeh ingin bersekolah di Plumbon karena banyak teman-teman SD ku yang sekolah disana. Namun apa daya orang tua ku tidak mau mendaftarkan aku disana karena di Plumbon dulu mempunyai citra buruk suka tawuran.
Dengan keterpaksaan aku bersekolah di Sumber, sebenarnya agak malas karena disana aku tidak mempunyai teman dan aku juga sudah lupa cara nya bersosiali dengan baik. Setelah aku masuk dan belajar disana aku selalu sendirian bahkan saat berangkat/pulang sekolah aku selalu sendirian dan jam istirahat juga selalu sendirian, bahkan saat ke WC pun sendirian. Sedih banget rasanya hampir sebulan lebih semenjak memasuki Sekolah Menengah Pertama selalu sendirian.
Ketika jam istirahat aku selalu di kelas, aku hanya bisa duduk dan merebahkan kepalaku diatas meja sambil menatap keluar kelas. Didalam hati aku berkhayal, seandainya saja aku memiliki teman mungkin aku tidak akan sendirian ditengah keramaian. Aku selalu mengutuk jam istirahat dan berharap jam istirahat dihapuskan dari Sekolah.
Lalu tiba saat nya pulang sekolah, aku menunggu angkot dibelakang sekolahan ku. Kata ibuku biar ga penuh angkotnya jangan menunggu di depan sekolah. Namun hari ini rasanya aneh sekali, setiap angkot jurusan rumah ku lewat selalu penuh. Hampir dua jam aku menunggu angkot dan waktu hampir pukul empat kurang. Aku terpaksa menggunakan angkot Sumber - Plumbon via Kenanga.
Dan akhirnya aku turun di Desa Lurah,
namun jalan menuju rumah ku masih lumayan jauh karena harus melewati satu desa
dan sungai.
Setelah aku berjalan melewati desa tersebut akhirnya tiba aku untuk menyeberangi sungai. Disana aku merebahkan kaki kecil ku untuk beberapa saat, walaupun jalan kerumahku itu sekitar 100 meter lagi.
Setelah aku berjalan melewati desa tersebut akhirnya tiba aku untuk menyeberangi sungai. Disana aku merebahkan kaki kecil ku untuk beberapa saat, walaupun jalan kerumahku itu sekitar 100 meter lagi.
Saat aku beristirahat aku bertemu teman-teman
satu perumahan ku yang sedang duduk ditepi sungai. Walaupun umur mereka 2 tahun
lebih tua dengan ku, aku anggap mereka itu sebaya dengan ku begitupun
sebaliknya mereka menganggap ku sebaya dengan nya. Namun ada hal janggal yang
aku perhatikan dari mereka, disaat mereka duduk ada sebuah botol gepeng dan
kecil disebelah nya ada sebungkus rokok.
Aku yang penasaran langsung menanyakan
kepada mereka. Ternyata itu adalah minuman alkohol yang biasa mereka sebut
gepengan. Mereka menawariku untuk mencoba minuman tersebut, kebetulan banget
waktu itu aku haus setelah berjalan tadi. Mereka menuangkan minuman tersebut di
aqua gelas dengan takaran sedikit.
Aku yang masih polos itu protes kepada teman ku, karena mereka memberi ku sedikit sekali padahal mereka tahu aku lagi haus. Lalu mereka ketawa dan senyum-senyum aja kepada ku sambil menambah air yang ada digelas. Setelah ditambah aku mencoba meminum nya. Aku kira minuman itu rasanya manis seperti sirup, ketika aku meminum nya rasanya gaenak. Memang sih ada aroma dan rasa buah lemon namun pas masuk ke mulut agak pait lalu ada sensasi panas ditenggorokan.
Aku protes kepada mereka tentang minuman
tersebut karena gaenak, namun mereka kembali tertawa hingga terbahak-bahak.
Setelah selesai tertawa mereka membakar rokok dan memberinya kepada ku katanya
supaya tidak pait dan panas dimulut. Aku percaya aja kepada mereka untuk
merokok. Namun aneh nya setelah aku hirup asap rokok mulut dan lidah ku terasa
manis. Aku isep lagi hingga tak terasa temanku tertawa melihatku merokok hingga
habis.
Lalu tiba-tiba kepalaku pusing, badan ku
terasa gerah seakan dunia ini seperti cembung karena efek minuman yang aku
minum. Mereka tetap tertawa melihat reaksi ku begitu. Namun setiap mereka
melihat mataku terpejam karena mabuk, mereka selalu mengajak bicara kepadaku katanya
biar aku sadar dan tidak kemana-mana. Mereka menanyakan keadaanku disekolah
baru ku seperti apa. Aku yang sedang ngelantur dan merokok menjawab pertanyaan
mereka. Bahwa disekolah baruku itu udah kaya kebun binatang.
Mereka selalu melihatku seperti binatang
dan mereka adalah pengunjung nya. Dengan tatapan sinis sambil berbisik pada
temannya mereka mengataiku karena tidak mempunyai teman. Lalu teman ku berkata
coba bawa rokok kesekolahan lalu menawarkan mereka merokok sesudah pulang
sekolah biar kamu memiliki teman. Setelah asik bercerita aku pulang kerumah.
Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan membawa rokok, saat jam istirahat aku muterin satu sekolahan untuk mencari kakak kelas yang slengean dan menawarkan rokok. Akhirnya aku menemukan nya, saat itu aku memanggil nya dan menawarkannya. Tiba-tiba aku di tarik dan dibawa ke pojok sekolahan ternyata disana banyak kaka kelas yang sedang merokok.
Kakak kelas yang aku tawari itu
memperkenalkan aku kepada temannya dan saat itu juga aku akrab dengan kakak
kelas tersebut. Kini setiap jam istirahat aku tak pernah sepi ataupun sendiri
lagi karena aku sudah mempunyai teman. Dan kini bahkan teman-teman ku yang
minta ikut agar diajak berteman dan meminta ikut agar dikenalkan kepada kaka
kelas.
Disaat itu juga aku terkenal dikelas ku
bahkan diangkatan ku bahwa aku kini mempunyai teman banyak. Ini semua berkat
alkohol dan rokok. Dan terimakasih juga kepada kimi telah mengajarkan ku
bersosialisasi dengan media rokok hingga saat ini aku masih memakai caramu
untuk mencari teman dan mencari obrolan baru.
Comments
Post a Comment