Rumah yang kau tinggalkan
Kehampaan yang selalu kurasakan saat bersama dirimu membuatku semakin tidak bisa menikmati arti kata bahagia. Kenangan indah yang pernah kita buat semuanya hanyut dalam kesombongan. Apa karena aku yang tidak bisa mengikuti perkembangan dari wajah cantik mu, hey jelita. Ataukah karena diriku yang tidak bisa mengatakan aku sanggup setiap kali kau meminta. Dan kamu yang ku anggap rumah kini hanya menjadi lahan kosong yang ditumbuhi rumput berduri. Akhirnya tiba juga kata manis darimu yang membuatku diam dalam kedinginan. Kau berkata bahwa aku bukanlah lelaki yang selama ini kau cari. Dan kau pun pergi meninggalkan sebuah tangan yang dulu selalu kau raih saat dirimu meneteskan air dari kelopak matamu. Pundak yang tak bisa lagi menahan beban kesidihanmu juga tak luput kau tinggalkan. Seminggu pun berlalu saat duka masih menemani sepiku, aku berusaha melangkah. Dengan langkah yang pincang aku berjalan untuk menemukan pengganti dirimu. Dan akhirnya aku menemukan rasa baru untuk ku bangun. Saat rasa yang sudah ku bangun dengan susah payah tiba-tiba kau hadir dengan senyuman lama mu yang dulu pernah membuat ku jatuh cinta. Dengan tidak peduli bahwa aku sudah memiliki dirinya. Lalu kau berusaha menggenggam dan bersandar pada tangan dan pudak ku yang dulu kau tinggalkan. Kau berusaha dan berbicara kepadaku dengan sebuah sihir yang dibalut oleh kata maaf dan sayang. Saat rasa sayang yang kau coba berikan padaku, aku berusaha menahan agar diriku tidak terpengaruh dan jatuh dalam pelukanmu lagi. Lalu aku berkata padamu dan meminta maaf karena aku sudah memiliki rumah baru yang dulu kau ratakan dengan rasamu untuk pergi dariku. Hanya sesal yang kini kau rasakan setelah diriku sudah membangun rumah dengan cinta yang kau tinggalkan. Lalu kau menangis dan pergi dengan segala sumpah mu untuk ku. Dan aku berkata aku selalu siap dan tak pernah takut saat kutukan mu tiba-tiba datang padaku :)
Comments
Post a Comment