Hujan dipertengahan Juli
Disaat langit sudah mulai gelap dan kilatan cahaya dilangitpun sudah bermunculan. Gue bergegas keluar menuju warung depan komplek rumah. Sambil memesan segelas kopi dan sebungkus rokok. Hujan pun turun dengan deras dan pikiran gue menuju pada sebuah hayalan tentang dirinya. Gue memikirkan kenapa gue gapernah bisa mendapatkan hatinya seperti wanita yang biasanya gue temui. Apa mungkin ini sebuah alasan Tuhan biar gue gapernah bisa menjalani hari dengan dirinya dalam sebuah perasaan yang sama. Tapi gue tetep gamau berburuk sangka sama Tuhan. Dan gue juga akan berusaha terus muncul dihadapan dia dan akan terus terjerat dengan dia sampai dia memberikan harapan. Terkadang juga gue prustasi sampai sesekali gue harus mabuk dan menjadi oranglain agar bisa mendapatkan hati dia. Tapi semua itu hanya sia-sia dan gue juga masih belum bisa bertemu dengannya mungkin karena gue yang belum siap atau mungkin dia yang terlalu sibuk dengan masa lalunya ataupun dia sedang menikmati kesendiriannya. Apapun alasannya gue tetap nunggu dia buat membuka hati. Seandainya dia ngejauh gue bakal nunggu dia sampai Tuhan mengutus untuk kembali lagi seperti awal kita memulai obrolan. Sepertinya waktu tak pernah henti mempermainkan setiap langkah hayalan. Walaupun dia tak pernah ada rasa yang sama dan walau gue harus terus mencari, pasti ada sebuah rasa yang sama walaupun dia terus menjauh dan mendekat. Karena gue yakin dia adalah wanita yang gue cari selama ini untuk berhenti mencintai wanita selain dirinya. Gue bakal terus mengulur tangan buat dia meski dia takpernah megenggam. Dan akhirnya hujan pun reda kini tiba saatnya gue pulang untuk beristirahat karena berpura-pura bahagia itu butuh energi lebih. See youu next time gaes ...
Comments
Post a Comment